Categories : Artikel

 

Seseorang memulai bisnis memang kesannya dianggap biasa bagi sebagian besar orang meskipun kadang-kadang yang melatarbelakanginya adalah kejadian luar biasa. Di tengah jumlah penduduk Indonesia 238 juta lebih ini pun ternyata pengusaha atau pebisnisnya tidak mencapai angka 2% dari total jumlah penduduk yang merupakan persentase ideal untuk menopang pertumbuhan ekonomi sebuah bangsa. Paling tidak Indonesia memerlukan 4,7 juta pengusaha untuk menggenapkan angka 2% tadi.

Melihat angka tersebut ada dua pikiran yang melatari: 1) sangat mungkin dan terbuka peluang menjadi pengusaha di Indonesia dengan pasar sedemikian besar; 2) sangat tidak mungkin dan kecil sekali peluangnya mengingat yang berhasil itu hanya segelintir orang yang memiliki kesempatan dan keberuntungan.

Jadi, seseorang di Indonesia dihadapkan pada kemungkinan dan ketidakmungkinan. Alhasil, ia mungkin menjadi pengusaha kalau ia berpikiran tidak menjadi orang biasa (biasa-biasa saja); dan kebalikannya tidak mungkin menjadi pengusaha karena berpikiran hanya menjadi orang biasa (kebanyakan).

Di luar soal mungkin atau tidak mungkin, perihal memulai bisnis memang tidak cukup dengan persoalan adanya modal atau dana, kemauan, dan juga peluang. Ternyata, di luar itu semua yang paling signifikan juga adalah mentalitas sebagai pengusaha sekaligus sebagai profesional. Banyak orang terbukti menggampangkan persoalan menjadi pengusaha atau pebisnis. Sebagian lagi mengalami mispersepsi misalnya menyamakan pengusaha dengan pedagang.

Krisis ekonomi pada 1997–1998, lalu juga terjadi pada 2008 tidak lantas membuat Indonesia menjadi luluh lantak dan drop menjadi negara miskin. Justru, Indonesia memperlihatkan kekuatan fundamental ekonominya menurut beberapa ahli. Namun, yang ditakutkan adalah terjadinya krisis moral dan krisis mentalitas yang tampak pada sebagian besar pemangku jabatan di Indonesia hingga menjalar pada rakyat dalam bentuk radikalisme dan hal ini sebenarnya menggambarkan kerapuhan Indonesia. Apabila krisis maha berbahaya ini juga menyentuh sektor usaha/ekonomi Indonesia, dapat dipastikan Indonesia akan hancur luluh karena para pengusaha pun sama korupnya dengan para oknum pejabat yang memanfaatkan kekuasaannya.

FX Oerip S. Poerwopoespito dan T.A. Tatag Utomo dalam bukunya Menggugah Mentalitas Profesional dan Pengusaha Indonesia menyebutkan dengan tegas bahwa krisis sikap mentallah yang menyebabkan hampir sebagian besar masalah bangsa ini. Poerwopoepito bahkan merinci beberapa masalah berat di Indonesia, yaitu sektor pendidikan, sektor pelayanan publik, sektor kehutanan, bidang hukum, dan bidang tata krama. Kita tidak dapat memungkiri bahwa masalah-masalah berat tadi sangat berimbas pada terbentuknya wirusahawan yang bermental sejati wirausaha profesional.

Jadi, andaikan muncul para wirausahawan muda yang tangguh, mereka-mereka dapat dipastikan bukan ‘orang biasa’ yang mampu mencuatkan ide bisnis di tengah permasalahan berat bangsa ini. Lalu, mari kita mundur ke belakang dan melihat pengusaha-pengusaha besar yang kini masih bertahan dan malah melahirkan generasi pengusaha yang tangguh.

 

Model 9 Tahapan Membangun Usaha Yang Berkelanjutan

Melalui buku ini, penulis mencoba membuat Model 9 tahapan perjalanan dalam memulai usaha dengan melakukan link and match pengalaman pribadi penulis dengan kisah para narasumber.

Model 9 tahapan tersebut didasari pada pertanyaan-pertanyaan:

  1. Apa alasan utama seseorang hingga perlu membangun usahanya? Atau apa alasan utama seseorang sampai meninggalkan dunia professional demi membangun usahanya sendiri?
  2. Jika ia sudah mampu menjawab pertanyaan no.1, maka pertanyaan berikutnya adalah jenis usaha apa yang akan ia tekuni?
  3. Kompetensi apa saja yang dibutuhkan dalam rangka membangun usahanya itu?
  4. Setiap orang biasanya memiliki guru yang ia kagumi dalam kehidupannya, sama halnya dalam berbisnis. Siapakah guru atau mentor yang memberi nasehat, tempat bertanya dan memberi arahan ketika membangun usahanya?
  5. Pertanyaan di tahap ini menyangkut kinerja perusahaan. Bagaimana cara agar bisnisnya mampu tumbuh dan berkembang?
  6. Bagaimana ia menjalankan perusahaannya? Gaya manajemen dan budaya perusahaan seperti apa hendak ia terapkan?
  7. Jika perusahaan sudah memasuki usia yang sudah mapan. Bagaimana ia mempertahankan pertumbuhan bisnisnya?
  8. Apa dan bagaimana bentuk tanggung jawab sosialnya kepada masyarakat?
  9. Apakah terpikirkan dalam dirinya bahwa seorang pengusaha sejati selayaknya menghasilkan pengusaha baru?

Khusus untuk pertanyaan no. 8 sepertinya tidak perlu menunggu perusahaan harus mapan dahulu agar ikut aktif dalam tanggung jawab sosial kepada masyarakat. Hal ini sudah dapat dilakukan sejak perusahaan dibangun tentu disesuaikan dengan kesanggupan sumber daya yang dimiliki.

Sebagian tahapan awal perjalanan dari Model 9 tersebut sudah dilewati oleh penulis. Sebagian besar sisanya masih belum dilalui. Walau demikian sebuah peta membangun usaha yang mampu tumbuh berkelanjutan kini sudah dimiliki oleh penulis.

Model ini juga kemudian menjawab kebingungan awal penulis ketika membangun perusahaan. Pendekatan Animal Economic atau Greedy Economic yang selama ini diyakini ternyata keliru besar, justru bila menginginkan sebuah long lasting company harus bersandar pada Ethical Economy atau Green Economic. Hal ini didukung penuh oleh pernyataan para narasumber dalam buku ini yang mengatakan bahwa jujur atau tidak jujur dalam berbisnis bukanlah merupakan pilihan, tetapi merupakan sebuah keharusan.

Tidak mudah menampilkan perjalanan mental ini mengingat para founder dan CEO perusahaan ini adalah pribadi-pribadi yang fokus pada kerendah-hatian tanpa perlu diekspos sedemikian rupa. Namun, ada hal penting yang perlu dijejaki oleh bangsa ini, terutama calon pengusaha tentang pemelajaran bahwa bisnis tidak dapat dijalankan dengan mental biasa-biasa saja dan bagaimana tata minda (mindset) diset menjadi pikiran jernih (pure mind) di tengah godaan luar biasa untuk menjalankan bisnis secara bebas nilai.

 Posted on : 09/01/2013
Tags :