Categories : Artikel

 

Gelombang demam entrepreneurship sedang melanda negeri ini. Hal ini dapat dengan mudah dilihat dengan begitu banyaknya buku dan seminar/workshop/training yang bertema entrepreneurship. Pastinya, penerbit tidak akan gegabah menerbitkan buku yang kemungkinan kecil diterima oleh masyarakat. Demikian pula dengan penyelenggaraan seminar/workshop/training. Lalu apakah karyawan seolah-olah tidak berarti selain Pergi Pagi Pulang Petang Penghasilan Pas-Pasan alias 7P?

Selama 10 tahun sebagai karyawan, banyak keluhan yang sangat ‘karyawan banget’ yang saya temui di antara rekan-rekan sejawat, bahkan dalam beberapa kasus pernah kami alami sendiri. Sangkin banyaknya keluhan tersebut sehingga pada artikel ini hanya akan dibahas mengenai salah satu isu klasik, yaitu kenaikan gaji. Isu lainnya akan dibahas pada kesempatan lain. Baiklah, kita mulai dengan sebuah cerita.

Anda tahu PRT (bukan Pak RT) alias Pembantu Rumah Tangga? Di kota-kota besar di Indonesia, memiliki PRT adalah hal yang cukup lumrah dijumpai, bahkan ada yang memiliki PRT lebih dari satu. Marilah anggap rata-rata keluarga memiliki seorang PRT, dengan gaji 1 juta rupiah. Pekerjaan yang dilakukan antara lain: mencuci & menyeterika pakaian, menyapu & mengepel lantai, membershikan rumah dan perabotannya.

Andaikan Anda memiliki seorang PRT dan suatu ketika ia mengajukan kenaikan gaji kepada Anda, apakah Anda meluluskan permintaannya begitu saja? Kami yakin pada umumnya tidak. Mengapa? Karena yang dilakukannya hanya itu-itu saja, tidak ada lebihnya. Benar?

Seandainya Sang PRT sebelum mengajukan kenaikan gaji melakukan kegiatan lain selama 2-3 bulan terakhir, seperti : memasak, menyiram & merawat tanaman, mengantar & menjemput anak; sehingga Anda dapat menghemat anggaran belanja, waktu mengurus tanaman dan antar-jemput anak. Kemudian PRT Anda mengajukan kenaikan gaji, akankah Anda setujui? Kemungkinan iya, karena PRT Anda telah menunjukkan nilai tambah kepada Anda. Apalagi bila PRT Anda dapat memasak makanan yang enak. Mungkin akan menjadi potensi usaha baru 🙂

Sekarang, andaikan Anda adalah pemilik perusahaan yang memiliki sejumlah karyawan. Suatu saat Anda dihadapkan dalam memutuskan untuk penyesuaian gaji atas dua orang karyawan. Karyawan pertama telah mampu meringkas proses kerja hingga ¾ dari biasanya. Selain itu, ide-idenya telah mampu menghemat uang perusahaan hingga ratusan juta rupiah setiap tahunnya. Karyawan yang kedua bekerja dengan sangat taat sesuai dengan job desc-nya selama bertahun-tahun, tidak lebih ataupun kurang. Manakah diantara keduanya yang akan Anda berikan kenaikan gaji lebih?

Menjadi karyawan ataupun pengusaha sebenarnya memiliki benang merah. Karyawan yang sukses dan pengusaha yang sukses, sama-sama memberikan nilai tambah (added value). Karyawan memberikan nilai tambah kepada perusahaan, sedangkan pengusaha memberikan nilai tambah kepada pasar (market). Enaknya sebagai karyawan, resiko kegagalannya jauh lebih kecil dari pengusaha. Jadi, mengapa tidak belajar mengembangkan diri Anda selagi masih menjadi karyawan agar kelak Anda siap menjadi seorang pengusaha?

Tentu Anda tidak serta merta ingin menjadi pengusaha hanya gara-gara sering ditegur atasan karena kurang disiplin kan?

Mari berdiskusi melalui Android Apps Jalan Pengusaha. Silahkan unduh GRATIS di http://bit.ly/apps9jp

 Posted on : 07/05/2013

6 Responses to “Karyawan dengan Nilai Tambah atau Pengusaha Pas-pasan?”
Read them below or add one

  1. wah.. nice article nih pak Adi.. 😀

    1. Terima kasih atas apresiasinya. Semoga dapat bermanfaat.

  2. Jadi ada kemungkinan juga dalam 5-10 tahun ke depan ,seandainya ternyata jmlh entrepreuner atau yg pernah mencoba, menjadi 90% (:p) dan 95% nya gagal.. Perlu seminar/workshop/buku untuk jadi karyawan 😀

    1. Ha ha ha ha. Menjadi entrepreneur ataupun karyawan, sama-sama perlu memiliki sikap dan kapabilitas yang menunjang. Kecuali mau jadi pas-pasan 😀

  3. benar sekali bro.. karyawan jg penting.. kalo smua pengusaha ngga ada karyawannya dong.. cuman kalo menurut saya, alasan byk seminar enterpreneurship, karena enterpreneur di indonesia kurang dari 1 % kan ya. gatau skrg heheh

    1. Halo R,

      Benar, perlu adanya keseimbangan.
      Sekarang mungkin prosentase entrepreneur di Indonesia sedang beranjak naik, sebab sedang demam nih 🙂

      Salam

Leave a Reply to suwandi cang

Your email address will not be published. Required fields are marked by *.