Categories : Artikel

 

Mungkin Anda sering membaca kisah dimulainya era industri, dimana siklus kehidupan kaum pekerja (karyawan) adalah bekerja diperusahaan yang baik sampai pensiun dan masa tuanya dijamin oleh perusahaan. Mungkin hal inilah yang menciptakan pemikiran umum : sekolah yang baik di sekolah yang bagus, lulus dengan nilai baik, bekerjalah diperusahaan yang bagus dan tetaplah disana hingga pensiun.

Entah bagaimana sekarang, pemikiran umum tersebut hingga generasi saya masih tetap ada. Bahkan ada persepsi bahwa dengan melanjutkan pendidikan hingga tingkat Master (Strata 2/S2), maka akan memperoleh kehidupan yang lebih baik, karena akan mendapatkan jabatan dan gaji yang jauh lebih tinggi dibandingkan lulusan S1 atau dibawahnya.

Hal yang didambakan oleh setiap karyawan adalah setiap tahun ada kenaikan gaji dan memperoleh bonus (entah tahunan atau lainnya). Di sisi lain, kenaikan gaji karyawan akan menjadi pengeluaran tambahan yang akan terus-menerus ditanggung oleh perusahaan, minimal selama setahun. Baik kenaikan gaji dan bonus, sangat tergantung pendapatan yang diperoleh perusahaan dari penjualan; terutama kenaikan omzet penjualan.

Perusahaan pun tidak dapat dengan serta-merta menutup mata atas masalah ini dan melemparkan tanggungjawab sepenuhnya kepada karyawan (meskipun memang setiap orang bertanggungjawab atas berbagai aspek kehidupannya). Karena, diakui ataupun tidak, karyawan adalah salah satu pelanggan perusahaan dalam bentuk lain. Ketika pelanggan (dalam bentuk apapun) kecewa, maka bukannya tidak mungkin mengganggu pendapatan perusahaan.

Isu kenaikan gaji dan bonus adalah isu yang cukup sensitif, yang bila tidak dikomunikasikan dan ditangani dengan baik dan bijaksana, maka bukannya tidak mungkin respek antara perusahaan dan karyawan akan terkoyak. Dan pada akhirnya, malah membuat semua pihak menjadi rugi; kinerja perusahaan menjadi turun dan karyawan pun tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Besarnya gaji dan bonus sebenarnya bukanlah hal mutlak yang menjadi tolok ukur kesejahteraan seseorang, dalam hal ini karyawan; melainkan bagaimana seseorang mampu mengelola keuangannya dengan bijaksana. Tidak jarang ditemui mereka-mereka yang memiliki penghasilan cukup besar (baik karyawan ataupun pengusaha), namun menjelang akhir bulan, pendapatannya lenyap begitu saja. Ingat, kami tidak mengatakan pendapatan besar tidak penting loh yah. Anda tentu masih ingat pesan Paman-nya Peter Parker bukan? “Dibalik penghasilan yang besar, ada tanggungjawab yang besar pula”.

Akan lebih baik bila pengusaha tidak hanya memberikan benefit dalam bentuk finansial saja kepada para karyawannya, namun juga memberikan pendidikan finansial yang dapat menyokong para karyawan menghadapi perubahan jaman dan mengelola keuangannya dengan baik dan bijaksana. Sehingga, harapannya, setelah aspek keuangannya sudah lancar, maka kinerja diperusahaanpun juga lebih fokus alih-alih meributkan masalah kenaikan gaji dan kapan turun bonus.

Mari berdiskusi melalui Android Apps Jalan Pengusaha. Silahkan unduh GRATIS di http://bit.ly/apps9jp

 Posted on : 18/07/2013

2 Responses to “Kesejahteraan Karyawan : Tanggungjawab Siapa?”
Read them below or add one

  1. Informasi yang mungkin dibutuhkan banyak orang..!!! Terus bekarya untuk kehidupan yang lebih baik

    1. Terima kasih atas apresiasinya Pak.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked by *.