Categories : Artikel

 

Di suatu kesempatan, salah seorang manajerial di sebuah perusahaan konglomerasi terbesar di Indonesia membuat sebuah kurva pendapatan karyawan. Dia mengatakan kepada kami, bahwa pada awalnya seorang karyawan akan memiliki penghasilan yang kecil. Seiring dengan berjalannya waktu, penghasilan akan beranjak naik dan terus naik. Hingga satu titik tertentu, penghasilan akan mulai sulit naik, bahkan cenderung mendatar. Apakah bakal seperti ini nasib yang harus diterima oleh seorang karyawan?

Kurva tersebut mungkin dapat menggambarkan fenomena kehidupan finansial karyawan secara umum. Biasanya faktor yang membuat penghasilan menjadi datar adalah mentoknya posisi/jabatan, di mana gajinya sudah cukup tinggi (di mata perusahaan) sehingga kalaupun ada kenaikan gaji biasanya kecil. Atau prestasi kerjanya juga datar-datar saja.

Ada fakta lain, kita juga dapat menemukan karyawan-karyawan yang meskipun sudah sepuh dan atau sudah berada di posisi puncak, penghasilannya tidak mendatar. Salah seorang kawan saya, meskipun jabatannya sudah di tingkat manajerial, penghasilannya tidak lagi hanya dari gaji bulanan, tetapi juga memiliki saham perusahaan. Dan masih banyak lagi contoh-contoh karyawan yang seperti itu.

Sebaliknya, ada sejumlah contoh karyawan yang banting stir jadi entrepreneur. Memang benar penghasilan mereka menanjak dibanding ketika menjadi karyawan. Tetapi, setelah dikurangi berbagai biaya operasional malah penghasilan bersihnya menurun dibanding ketika masih jadi karyawan. Ditambah lagi penghasilannya tidak menentu tiap bulan.

Lalu apa yang membedakan antara mereka-mereka yang penghasilannya mendatar dengan yang tetap terus menanjak? Benang merah yang dapat kami temui adalah passion terhadap apa yang mereka lakukan, sehingga mampu mendorong mereka memberikan nilai tambah yang signifikan. Tentunya Anda masih ingat pentingnya nilai tambah pada artikel sebelumnya bukan?

Sebuah usaha akan terus hidup bila terus memberikan nilai tambah. Dan Anda, sebagai entrepreneur yang memberikan jiwa kepada usaha tersebut, apakah memiliki passion terhadap apa yang Anda lakukan?

Apa jadinya sebuah usaha yang dibangun karena sekedar ikut-ikutan karena fenomena sebuah barang atau jasa yang sedang trend? Biasanya faktor harga yang akan menjadi penentu. Jika pendatang baru menggunakan strategi harga lebih murah. Lama-lama margin keuntunganpun akan semakin tergerus.

Lagi-lagi seorang teman yang terjun di bisnis online jualan busana muslim yang mengeluh kalau margin yang didapatkan ketika awal terjun di bisnis ini sekitar setahun yang lalu, sekarang hanya kurang dari setengahnya di saat ini.

Atau ada juga entrepreneur online yang membabi buta melakukan broadcast dengan tidak mengenal waktu dan tempat karena panik dengan stok baju yang masih banyak. Akibatnya tentu dapat ditebak. Bukannya mendapatkan reputasi baik; yang ada malah loe… gue… end (baca : dihapus dari daftar pertemanan).

Sepertinya, terjun ke dalam sengitnya dunia usaha sangatlah beresiko bila belum mengetahui dengan jelas dan benar apa yang Anda inginkan. Jangan hanya gara-gara pendapatan tidak cukup lalu menyangka bahwa jalan keluarnya adalah menjadi entrepreneur sebagai solusi satu-satunya.

Mari berdiskusi melalui Android Apps Jalan Pengusaha. Silahkan unduh GRATIS di http://bit.ly/apps9jp

 Posted on : 12/05/2013

6 Responses to “Kurva Nasib Penghasilan Karyawan dan Entrepreneur”
Read them below or add one

  1. Lungpril says :

    Kalau begitu, cara lain apa yang bisa digunakan agar bisa mendapatkan kekayaan yang lebih?
    Terima kasih.

    1. Halo Pak,

      Coba Bapak pelajari model Cashflow Quadrant yang dipopulerkan oleh Robert T. Kiyosaki. Model tersebut menjelaskan bahwa dalam hidup ini, manusia dapat memperoleh penghasilan dari 4 kuadran. Dan kita dapat menjadi kaya (finansial) di kuadran manapun.

      Apa-apa saja yang termasuk dalam masing-masing kuadran, dapat Bapak pelajari dari Cashflow Quadrant. Lalu, pilih yang mana yang cocok dengan profil Bapak saat ini.

  2. Bagus banget kalau semua diingatkan seperti ini:) namun memang selalu ada dualitas kan Pak? mau senang hrs tau sedih, mau sukses ya hrs tau ‘harga’nya dan melakukannya (ya kecuali beruntung). Saya setuju dgn tulisan di buku pak Adi, jelas sekali dijabarkan tujuan (seharusnya), manusia menjadi pengusaha/entrepreuner dan atribut yg harus dijiwai:D dan memang bukankah kebanyakan entrepreuner pasti sering ga bisa tidur,badan encok, mikirin utang sampe ubanan? Hehehe… Tapi kan tetep menggairahkan kl sdh ‘belajar’ 😀 mohon bimbingannya Pak Adi:)

    1. Akan menggairahkan bila seorang entrepreneur memang memiliki passion dalam usaha yang digelutinya dan mau mengambil tanggungjawab. Bila passion tidak ada, ketemu kendala yang besar, maka dalam hati pun ogah-ogahan mencari solusi. Apalagi bila tidak mau mengambil tanggungjawab usahanya.

  3. Pak Anton,

    Kami Setuju! Oleh sebab itu kami pun selalu wanti-wanti kepada semua yang mau jadi pengusaha. Apa tujuan Anda jadi pengusaha? Kalau hanya mau sekedar menjadi kaya, kan jadi pengusaha bukan jalan satu-satunya.

  4. Memiliki passion juga tidak cukup gan dan berpikir pada memberikan Nilai Tambah adalah juga klise. Rata-rata kita sewaktu dari karyawan berpindah kuadran memiliki ide untuk menjual produk atau jasa dengan nilai tambah. Kenyataannya tidak semudah itu. Suatu saat Anda akan dihadapkan dengan suatu keputusan apakah akan terus stay dengan menjual produk / jasa dengan nilai tambah plus plus tentunya dengan harga yang lebih premium, dengan disisi lain biaya dan cashflow yang semakin menghimpit tenggorokan Anda, atau ikut arus, fight dengan harga, untung kecil tapi bisa nutup biaya. Seringkali kita dihadapkan dengan keputusan ini dan setiap keputusan ada resikonya secara finansial. Menjadi pengusaha tidaklah mudah saat ini, Anda mesti siap mental. Ada saatnya Anda bisa berhari-hari tidak bisa tidur memikirkan gajian karyawan. Kalau pernah merasakan sakitnya ulu hati karena patah hati, rasanya sama dan bahkan panjaaaang dan lamaaaa.

    Disisi lain, emang pemerintah dan politikus concern dengan iklim usaha di Indonesia ? Lip service ya, kenyataannya jauh dari harapan. UMR naik tanpa ada patokan yang jelas dari pemerintah, pungli di jalan-jalan banyak, ijin bongkar muat yang jelas2 sdh dihilangkan tapi di lapangan masih diberlakukan dan lucunya seperti Bogor dan Bekasi mesti mengurus ijin tersendiri, oknumnya jelas-jelas menghadang di jalan, kelengkapan ijin yang tidak murah, dan sebagainya dan sebagainya. Nah satu lagi BBM mau naik lagi. Klop dah. Seperti lingkaran setan, himpitan bbm akan mentrigger lagi permintaan akan kenaikan umr, dan seterusnya. Pengusaha yang sdh mapan mungkin lebih mudah beradaptasi, pengusaha baru matilah. Mengejar BEP seperti naik gunung, kelihatannya dekat tapi gak sampai-sampai juga hehehehehe. Bisa-bisa Anda kehabisan napas dulu sebelum sampai di puncak.

    Berpikirlah extra masak-masak untuk terjun menjadi entrepreneur di Indonesia, apalagi untuk kelas usaha UKM. Jangan tergoda dengan yang manis-manis. Siapkan mental, dana extra di saat usaha belum mampu menutup biaya hidup dan operasional usaha (yang tidak jelas berapa lama), dukungan istri juga vital lho. Kalau istri tidak setuju lebih baik jangan, bisa backfire ke Anda dan juga ingat masa depan anak-anak Anda. Dan yang paling utama minta restu dengan yang Di Atas.

    Mohon maaf atas tulisan ini, mungkin ini dianggap terlalu pesimistik atau menakut-nakuti, tapi realitanya begitulah adanya. Memang nasib tiap orang memang tidaklah sama. Kemampuan tiap individu juga tiap orang beda, dan kepiawaian dalam memilih ceruk pasar tiap orang juga berbeda. Tapi ada baiknya sedia payung sebelum hujan.

    Salam Damai !!!

Leave a Reply to Admin

Your email address will not be published. Required fields are marked by *.