Categories : Artikel

 

Ada banyak nasihat yang dapat kita peroleh dari berbagai sumber tentang bagaimana memulai sebuah bisnis. Sudah tidak terhitung buku, seminar, dan pelatihan yang mengangkat topik ini. Mungkin juga Anda adalah salah seorang yang sudah membaca banyak buku dan menjadi pelanggan dari banyak seminar dan pelatihan selama bertahun-tahun. Namun anehnya, tidak mulai-mulai juga. Mengapa demikian? Karena yang dibutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan dalam membangun usaha baru.

Seorang kawan penulis pernah menyebutkan bahwa untuk menjadi seorang pengusaha perlu memiliki 6D dalam dirinya, yaitu: desire (hasrat yang membara terhadap apa yang sedang diupayakannya), drive (dorongan untuk selalu lebih baik), discipline (disiplin terhadap tugas dan tanggung jawab), determination (keteguhan hati ketika situasi tidak seperti yang diharapkan), data (memiliki sejumlah informasi yang mendukung bisnisnya), dan dana (permodalan yang cukup untuk menjalankan bisnisnya). Penulis kemudian menambahkan ‘D’ yang ke-7 sebagai digital (melek teknologi) untuk mengantisipasi perubahan yang cepat pada masa sekarang. Tampak dari ke-7D ini, 4D berhubungan erat dengan attitude (sikap).

Bapak Tanri Abeng dalam bukunya Profesi Manajemen menyebutkan bahwa diibaratkan sebagai sebuah bangunan, semakin tinggi tingkatannya semakin dibutuhkan fondasi yang kokoh agar tidak mudah goyah dan roboh jika terjadi guncangan dari luar dan dalam. Fondasi yang utama adalah kompentensi atau kemampuan. Dalam hal ini kompetensi ini disokong oleh knowledge (pengetahuan), skill (keterampilan), dan attitude (sikap). Knowledge dan skill ini akan menjadi sia-sia jika tidak dibungkus dengan attitude yang benar. Tanpa sikap yang benar maka segala pengetahuan dan keahlian hanya akan dipakai untuk tujuan yang tidak benar.

Sebagai contoh, ukuran usia perusahaan yang telah berumur satu setengah abad seperti Lehman Brothers bahkan tidak dapat dijadikan jaminan akan kemampuan bertahan hidup jika ternyata pengelolanya pada masa sekarang tidak memiliki sikap yang baik di dalam kompetensinya. Walaupun kebangkrutan perusahaan adalah hal yang jamak, untuk kasus ini, sepertinya sangat tragis mengingat kemampuannya mempertahankan diri selama 150 tahun pada masa lalu seolah lenyap tak bekas.

Jadi, sebetulnya untuk memulai sebuah bisnis bukanlah sekadar pengetahuan dan modal dana seperti yang selama ini diyakini orang sebagai langkah awal. Di luar itu, sudahkah kita membangun kompetensi sebagai seorang pengusaha? Nilai-nilai seperti apa yang selalu digenggam dalam membangun, membesarkan, dan mempertahankan bisnis kita? Bahkan, kadang kita pun tidak pernah mengizinkan keadaan ataupun lingkungan menawar nilai-nilai tersebut? Seperti apa persisnya bunyi dari nilai-nilai tersebut?

 Posted on : 09/01/2013
Tags :