Categories : Artikel

 

Ujilah pada orang-orang di sekeliling Anda dengan pertanyaan bagaimana citra seorang pengusaha dalam benak mereka. Jawaban terbanyak adalah betapa nikmatnya jadi seorang pengusaha. Seolah-olah segala beban yang dipikul oleh seorang pengusaha jauh lebih kecil ketimbang menjadi seorang karyawan.

Bukankah seorang pengusaha memiliki karyawan yang dapat diperintah atau didelegasikan tugas dan pekerjaan? Bila tidak, buat apa pula seorang pengusaha memiliki karyawan? Begitulah argumen mereka.

Benarkah demikian?

Kali ini cobalah Anda melakukan survei kecil-kecilan terhadap teman-teman Anda yang sudah berstatus “pengusaha”. Kira-kira apa keluhan mereka?

Sebagian besar akan curhat tentang bagaimana susahnya mendapatkan karyawan yang memiliki kompetensi tinggi. Rata-rata menuntut upah yang tinggi sementara kompetensi belum teruji. Bahkan ada yang begitu frustasinya sampai memasang status di media sosial dengan kalimat yang intinya mengkritik para karyawan yang bekerja hanya demi uang.

Sementara di sisi karyawan, alasan yang paling sering diakui oleh mereka yang ingin menjadi pengusaha karena penghasilan yang didapatkannya dari tempat ia bekerja dirasa kurang.

Sepertinya telah terjadi sebuah kondisi yang kontradiktif, ya?

Sebagai pengusaha, sebenarnya mereka adalah pucuk pimpinan perusahaan yang menjadi role model bagi para karyawannya. Mereka adalah pemimpin dari sebuah tim besar yang bernama perusahaan.

Dari sekian lama saya berprofesi sebagai karyawan di beberapa perusahaan yang berbeda, ditemukan bahwa budaya perusahaan cenderung sangat terpaut dengan perilaku pimpinannya; terutama bila pimpinan tersebut adalah pemilik langsung.

Bila di perusahaan Anda banyak terdapat karyawan penjilat; cobalah amati bagaimanakah selama ini Anda menahkodai perusahaan sehingga timbul budaya seperti itu?

Bila produk yang perusahaan Anda tidak dibeli oleh karyawan Anda sendiri, apa saja kah yang telah Anda lakukan sehingga mereka berperilaku demikian?

Ada sebuah pesan yang seolah menampar diri saya, “Bisnis Anda hanya akan sebesar pertumbuhan pribadi Anda”. Jadi bila usaha Anda mengalami kemandekan ataupun penurunan, mudah-mudahan hal ini bukan Andalah yang memiliki andil terhadap situasi tersebut.

Karena ada kalimat lain yang jauh lebih menyakitkan: “Biasanya (meski tidak selalu), perilaku karyawan itu merupakan cerminan dari bosnya“.

Mari berdiskusi melalui Android Apps Jalan Pengusaha. Silahkan unduh GRATIS di http://bit.ly/apps9jp

 Posted on : 28/05/2013

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked by *.