Categories : Artikel

 

Di tengah maraknya startup digital, apakah Anda pernah mendengar sindrom fatamorgana entrepreneur? Beberapa kali saya berkesempatan berdiskusi dengan teman yang ingin menjadi entrepreneur. Setelah berdiskusi panjang lebar sembari menggali lebih dalam apa yang mendasari dirinya untuk beralih menjadi entrepreneur, ada hal menarik yang saya temukan. Mereka mengira menjadi entrepreneur adalah yang mereka inginkan, sama persis seperti apa yang saya pikirkan dahulu.

Sekitar tahun lalu, saya sempat membedah materi Consumer Behavior yang akan diajarkan kepada para mahasiswa desain. Bagi saya, ini sangat menarik sekali. Di satu sisi, seorang mahasiswa desain (dalam benak saya) adalah seniman dengan pribadi ekspresif yang menciptakan sesuatu berdasarkan subjektifitas. Di sisi lain, consumer membutuhkan sesuatu yang dapat memenuhi keinginan atau kebutuhannya.

Nah, selama ini, apa yang ada dalam benak para mahasiswa sehingga mereka memilih untuk masuk jurusan desain? Apakah mereka hendak menjadi seorang desainer dengan jiwa seniman tulen? Ataukah sebenarnya mereka ingin menjadi kaya? Hal ini penting untuk dijawab, agar kelak di kemudian hari mereka tidak frustasi mendapati kenyataan bahwa, misalnya, sebenarnya mereka ingin kaya dengan menjual karya seni mereka, tetapi karya mereka tidak dapat diterima pasar.

Saya tidak mengatakan tidak boleh menciptakan produk yang sesuai dengan ekspresi jiwa. Karena faktanya, pasti akan ada segelintir orang yang akan tertarik dan menghargai produk seni tersebut. Hanya yang menjadi permasalahan adalah kapan? Berapa banyak? Berapa harga yang berani dipertukarkan? Jika ingin memiliki banyak uang, seorang seniman haruslah menciptakan produk-produk yang diterima dan dibutuhkan oleh pasar yang cukup besar.

Dahulu, saya pun mengira bahwa saya ingin menjadi seorang entrepreneur. Namun yang sebenarnya saya inginkan adalah kaya (baca : berkecukupan) dan punya cukup banyak waktu bersama keluarga. Apakah entrepreneur pasti menjadi kaya dan punya banyak waktu? Kan belum tentu juga. Apalagi ketika mulai merintis usahanya, uang dan waktu lebih banyak dicurahkan untuk startup. Bahkan Robert Kiyosaki dalam salah satu bukunya pernah menuliskan bahwa seseorang dapat menjadi kaya dalam masing-masing kuadran (kuadran Karyawan, Pengusaha Kecil, Perusahaan dengan sistem dan Investor).

Ketika saya sudah menyadari dengan jelas apa yang sebenarnya saya cari, maka menjadi entrepreneur atau tidak lagi menjadi suatu keharusan. Saya dapat melihat berbagai alternatif yang tersedia atau waspada terhadap alternatif yang akan tersedia, untuk mencapai apa yang saya inginkan.

Nah, jika Anda benar-benar ingin menjadi seorang entrepreneur, apa sih yang sebenarnya Anda cari dengan menjadi seorang entrepreneur?

Mari berdiskusi melalui Android Apps Jalan Pengusaha. Silahkan unduh GRATIS di http://bit.ly/apps9jp

 Posted on : 05/06/2013

2 Responses to “Sindrom Fatamorgana Entrepreneur”
Read them below or add one

  1. Artikelnya keren, cuman dikasi ilustrasi gambar dong, biar enak bacanya

    1. Terima kasih atas apresiasinya dan masukannya.

Leave a Reply to Admin

Your email address will not be published. Required fields are marked by *.